Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Kisah Merpati Airlines: Saudara Kandung Garuda Indonesia, Membelot Jadi Lawan dan Mati



Triaspolitica.net : Sejak Indonesia merdeka, tepat tahun 1950, maskapai Garuda Indonesia Airways mendominasi penerbangan lokal. Jika kota besar sudah terhubung dengan Garuda, maka tidak dengan kota kecil di pedalaman. Kota-kota tersebut tidak bisa diakses pesawat besar dua mesin. Penyebabnya karena bandara di sana berukuran kecil dan beralaskan rumput.

Atas permasalahan ini, pemerintah Indonesia mendirikan maskapai perintis Merpati Nusantara untuk melengkapi kekurangan Garuda pada 6 September 1952. Maskapai yang diperuntukkan untuk penerbangan di daerah terpencil ini sebetulnya kelanjutan dari penerbangan “jembatan udara” yang dirintis Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) sejak 1957. Sesuai namanya, maskapai ini ditunjukkan untuk membuka akses ke daerah pedalaman.

“Beroperasi dengan pesawat kecil. Douglas DC-3 dan Twin Otter menjadi pesawat andalannya. Dari sini rute dapat diperluas ke seluruh negeri,”tulis R.E.G Davies dalam Airlines of the Jet Age: A History (2011). Mulanya, rute Merpati hanya Kalimantan, tetapi perlahan meluas hingga pedalaman Papua sejak 1 Januari 1963.

Perkembangan Merpati tidak terlepas dari tangan emas Garuda. Sejak Merpati berdiri, Garuda menyerahkan peluang penerbangan rute pedalaman dan permasalahan pelayanan sosial kepada Merpati. Akibatnya, maskapai baru ini dikenal cepat oleh masyarakat. Belakangan, kebijakan ini menjadi senjata makan tuan bagi Garuda. Pesatnya Merpati mengusik posisi Garuda. Dari sinilah terjadi persaingan antara keduanya.

Memasuki akhir 1960-an, bisnis penerbangan lokal semakin kompetitif. Meski saudara sekandung, Garuda dan Merpati sama-sama ingin menjadi juara. Dari segi pesawat, Garuda terbukti menang karena seluruhnya berjenis jet. Namun, dari segi tarif dan ketepatan jadwal, Merpati menjadi nomor satu. Tarif Merpati lebih murah dan jadwalnya tepat waktu. Karenanya, masyarakat lebih memilih Merpati dibanding Garuda.

Situasi ini membuat Direktur Garuda, Wiweko Soepono, meradang. “Pada tahun 1967, Wiweko telah mencoba untuk membubarkan Merpati, tetapi tidak berhasil. Lalu dua tahun kemudian, ia mencoba membatasi penerbangan Merpati ke Irian Barat, tetapi lagi-lagi tidak berhasil,” tulis R.E.G Davies.

Perlahan, Garuda akhirnya berhasil memenangi persaingan. Penyebabnya karena dua hal. Pertama, Wiweko berhasil mendekati dan meminta pemerintah untuk membatasi Merpati menerbangkan pesawat berjenis baling-baling. Kedua, disebabkan oleh kemunduran bisnis Merpati itu sendiri.

Tercatat pada tahun 1978, maskapai ini mengalami kerugian sebesar 3 juta dollar AS karena menurunnya jumlah penumpang pasca pemerintah tidak lagi mensubsidi tiketnya. Tidak ada catatan lebih lanjut apakah penghentian subsidi berkaitan dengan persaingannya dengan Garuda atau tidak.

Pada tahun kerugian itu pula, pemerintah memutuskan untuk menyerahkan saham Merpati kepada Garuda lewat Peraturan pemerintah No. 30 Tahun 1978. Artinya, Merpati resmi jadi anak perusahaan Garuda.

Dalam kurun 1970 sampai 1980-an, Merpati merupakan elemen penting transportasi antar pulau. Pada puncaknya, Merpati melayani 128 kota yang mayoritas berada di daerah terpencil tanpa adanya transportasi lain. Sumbangsihnya terhadap daerah pun besar.

“Pada tahun 1975 Gubernur Aceh Muzakir Warad mengungkapkan bahwa pembukaan penerbangan perintis sangat mendukung kegiatan pembangunan di daerahnya. Ia memberikan contoh bahwa pengiriman uang yang berjumlah hingga ratusan juta rupiah jika melalui darat mengandung risiko. Oleh karena itu, melalui jasa pelayanan penerbangan pengiriman berlangsung lebih aman dan cepat,” tulis Yuda B. Tangkilisan dalam “Kebijakan Penerbangan Perintis Di Indonesia: Latar Belakang, Tantangan Dan Kontribusi” (2011)

Pada tahun 1990-an, setelah pemerintah memperbolehkan penggunaan mesin jet pada maskapai lokal rivalitas kedua maskapai ini muncul kembali. Perluasan rute yang dilakukan Merpati membuat Garuda kembali gerah. Harusnya, sebagai anak perusahaan, Merpati melengkapi pelayanan Garuda, bukan menyaingi.

Pada April 1997, pemerintah secara resmi memisahkan Garuda dari Merpati. Sayang, tujuan Merpati untuk terbang tinggi secara mandiri kenyataannya gagal total. Setahun kemudian, Merpati menghadapi kebangkrutan karena kegagalan manajemen. Puncaknya terjadi pada 2022 ketika Pengadilan Negeri Surabaya menyatakan PT. Merpati Nusantara Airlines pailit.

Sumber : CNBC Indonesia

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Ads Bottom