Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Penjelasan PP Muhammadiyah Terkait Penetapan 1 Ramadan 1447 H Berbasis Fakta Astronomi di Alaska

Muhamad Rofiq Muzakkir (Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah)

Penetapan awal Ramadan 1447 H yang jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, telah memantik diskusi kritis di tengah masyarakat, khususnya terkait penggunaan posisi hilal di kawasan Alaska sebagai rujukan. Muncul pertanyaan mendasar yang mewakili kegelisahan publik: bagaimana mungkin umat Islam di Indonesia memulai puasa di pagi hari, sementara parameter hilal di lokasi rujukan (Alaska) baru akan terpenuhi belasan jam kemudian? Keberatan ini wajar terjadi akibat benturan antara logika kalender lokal yang berbasis visibilitas langsung dengan logika kalender global yang bersifat sistemik. Tulisan ini bertujuan untuk mengurai benang kusut tersebut, mendudukkan logika syar’i dan astronomis Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) secara proporsional, serta menjawab keraguan terkait dimensi waktu dan validitas hukum puasa kita

Berikut penjelasan ilmiah dan syar’i yang disusun dalam lima poin utama:

  1. Konsep Satu Hari Satu Tanggal (Single Global Day)

Kita harus membedakan antara “Waktu” (jam/siang-malam) dengan “Tanggal” (sistem administrasi hari). Ayat “wa la al-laylu sabiqun al-nahar”, sebagaimana ditanyakan, berbicara tentang keteraturan kosmis fisik siang dan malam di lokasi masing-masing, dan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) tidak melanggar ini; orang Indonesia tetap puasa dari Fajar hingga Maghrib waktu setempat.

Dalam KHGT, kita memandang bumi sebagai satu kesatuan matra waktu. Siklus hari dimulai dari Garis Tanggal Internasional (International Date Line) di Pasifik, bergerak ke barat melewati Selandia Baru, Australia, Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan berakhir kembali di Pasifik dekat Alaska. Oleh karena itu, jika parameter keterlihatan bulan terpenuhi di mana pun di muka bumi sebelum siklus hari itu berakhir—meskipun di lokasi paling ujung barat seperti Alaska—maka keberadaan hilal tersebut menjadi validasi hukum bagi seluruh penduduk bumi pada hari/tanggal yang sama. Jadi, tanggal 17 Februari dianggap sebagai satu hamparan waktu global; ketika syarat terpenuhi di ujung hari (Alaska), status “bulan baru” berlaku untuk seluruh zona waktu yang berada dalam satu putaran hari tersebut, termasuk Indonesia.

Perlu juga dicatat bahwa konsep batas tanggal internasional ini sejatinya bukanlah hal asing, melainkan realitas yang telah lama dipraktikkan umat Islam dalam kehidupan sehari-hari tanpa perdebatan. Bukti paling nyata adalah pelaksanaan Salat Jumat. Kita secara sadar menerima bahwa aliran waktu Jumat bergerak berurutan dari arah Pasifik: dimulai dari Selandia Baru, masuk ke Indonesia, lalu ke Arab Saudi, hingga berakhir di benua Amerika. Kita tidak pernah mempermasalahkan mengapa hari Jumat dimulai dari garis tersebut. Penerimaan kolektif umat Islam terhadap konvensi ini sah secara fikih berdasarkan kaidah ‘al-‘adah muhakkamah’ (adat/kebiasaan yang baik dapat menjadi hukum) dan ‘al-ma’ruf ‘urfan kal-masyrut syarthan’ (sesuatu yang sudah dikenal sebagai konvensi umum kedudukannya sama kuat dengan syarat yang disepakati). Artinya, menjadikan Garis Tanggal Internasional sebagai titik awal hari kalender bukanlah hal baru, melainkan pengukuhan atas sistem waktu yang selama ini telah memfasilitasi keteraturan ibadah kita.

  1. Aspek Syariah: Ittihadul Mathali’ dan Kesatuan Matra

Secara syar’i, KHGT menerapkan prinsip Ittihadul Mathali’ (kesatuan tempat terbit) dalam skala global. Dalam fikih Muhammadiyah sebelumnya, kita mengenal konsep Wilayatul Hukmi, di mana hilal yang wujud di satu lokalitas dapat menyatukan awal puasa dalam satu wilayah negara meskipun posisi hilal berbeda-beda antar provinsi. Misalnya, hilal yang wujud di Aceh digunakan untuk memulai puasa bagi mereka yang tinggal di Maluku atau Papua. KHGT memperluas konsep ini menjadi Wilayatul Ardh (kesatuan wilayah bumi). Memperluas pemberlakuan hilal ini dalam istilah teknis KHGT disebut dengan naql imkan al-rukyah (mentransfer visibilitas hilal atau menerapkan secara global parameter hilal).

Dasarnya ada beberapa dalil. Diantaranya dari hadis Nabi. Perintah Nabi saw. “Berpuasalah kamu karena melihatnya” (note: hadisnya menggunakan wawul jam’isumu) dipahami sebagai seruan kepada umat Islam sebagai satu kesatuan korps global, bukan seruan terfragmentasi kepada penduduk lokal semata. Jika satu bagian dari tubuh umat (di Alaska) telah memiliki akses terhadap hilal secara syar’i dan astronomis, maka kewajiban itu jatuh kepada seluruh umat, termasuk kita di Indonesia. Inilah yang disebut kesatuan matra; satu dimensi hukum yang tidak terpisahkan oleh sekat geografis.

  1. Logika Hisab: Menjawab Isu “Mundur Waktu” (Retroaktif)

Menjawab kekhawatiran soal “berpuasa sebelum hilal wujud di Alaska”, kuncinya ada pada hakikat Hisab sebagai instrumen kepastian (qath’i). Dalam sistem hisab, kita tidak bergantung pada wujud fisik peristiwa saat itu juga (real-time), melainkan pada kepastian terjadinya peristiwa tersebut. Kita memulai hari lebih awal di Indonesia bukan karena mendahului takdir, tetapi karena rotasi bumi menempatkan kita di zona waktu awal. Pengetahuan pasti bahwa “pada waktunya di Alaska hilal akan memenuhi syarat” sudah cukup menjadi landasan hukum yang sah sejak pagi hari di Indonesia. Ini bukan menarik kejadian masa depan ke masa lalu, melainkan memberlakukan hukum berdasarkan siklus 24 jam yang terintegrasi.

Hisab adalah “tiket valid” yang menjamin bahwa pada waktunya di Alaska hilal pasti wujud. Karena jaminannya sudah pasti, maka kita di Indonesia (yang kebagian waktu pagi duluan) sudah sah untuk memulai ibadah puasa tanpa harus menunggu “kereta” (hilal) itu benar-benar tiba di stasiun akhir (Alaska). Validitas hukumnya berlaku untuk satu putaran hari itu secara utuh.

  1. Fakta Konvergensi dengan Kalender Ummul Qura (Mekah)

Terakhir, perlu diluruskan bahwa ketika kita berpuasa tanggal 18 Februari, sesungguhnya kita tidak sendirian atau hanya bergantung pada tempat yang jauh di Alaska. Secara faktual, Kalender Ummul Quro (Arab Saudi) kemungkinan besar juga menetapkan 1 Ramadan pada tanggal yang sama.

Mengapa? Karena Ummul Quro menggunakan kriteria yang lebih longgar (moonset after sunset atau bulan terbenam setelah matahari), tanpa syarat ketinggian minimum. Pada tanggal 17 Februari petang di Mekah, bulan sudah di atas ufuk (positif), sehingga Saudi pun sudah masuk bulan baru.

Lantas, kenapa Muhammadiyah menyebut “Alaska”, tidak menyebut fakta astronomis di atas Kakbah saja? Karena kita konsisten pada kriteria hasil Kongres Internasional Penyatuan Kalender tahun 2016 yang mensyaratkan visibilitas ilmiah tinggi (tinggi min. 5 derajat, elongasi 8 derajat). Muhammadiyah hadir dalam forum Kongres tersebut. Kriteria yang diputuskan dalam forum tersebut kemudian telah secara resmi diterima melalui Forum Musyawarah Nasional tarjih tahun 1447 H/2024 M di Pekajangan Pekalongan dan ditanfidz oleh PP Muhammadiyah tahun 1445 (2025). Jadi, penyebutan Alaska adalah bukti konsistensi kita pada kriteria yang kita tetapkan sendiri, meskipun secara praktis (de facto), pelaksanaan puasa kita akan berkesesuaian dengan kriteria Ummul Qura Arab Saudi.

  1. Historisitas dan Kematangan Ijtihad

Penting untuk dipahami bahwa penerapan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) ini bukanlah keputusan dadakan yang muncul tiba-tiba, melainkan puncak dari ikhtiar intelektual Muhammadiyah yang telah berjalan selama hampir dua dekade. Pengkajian mendalam tentang penyatuan kalender ini telah dimulai secara serius sejak tahun 2007, di mana Ketua Umum PP Muhammadiyah saat itu, Prof. Dr. Din Syamsuddin, mengambil peran sentral sebagai inisiator.

Pada tahun tersebut, di bawah kepemimpinan beliau, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menggelar simposium internasional bertajuk “The Effort Towards Unifying the Islamic International Calendar” di Jakarta. Forum bergengsi ini menghadirkan para pakar astronomi dan kalender Islam tingkat dunia, di antaranya Prof. Dr. Muhammad Ilyas dari Malaysia dan Dr. Jamaluddin Abdurraziq dari Maroko, yang meletakkan dasar-dasar pemikiran kalender global. Dari simposium inilah ide besar tersebut terus bergulir, didiskusikan, dikritisi, dan dimatangkan melalui berbagai musyawarah dan muktamar selama kurang lebih 19 tahun. Setelah melalui proses tahqiq (verifikasi) yang panjang, barulah sistem ini diresmikan penggunaannya pada tahun 2025, dan Ramadan 1447 H (2026 M) ini menjadi momentum bersejarah sebagai puasa pertama kita menggunakan sistem global ini. Jadi, keputusan ini adalah buah dari “pohon” ijtihad yang telah ditanam dan dirawat sejak era kepemimpinan Pak Din Syamsuddin sendiri.

Sebagai kesimpulan, peralihan menuju sistem kalender global ini menuntut kita untuk meluaskan cakrawala berpikir (paradigm shift); dari sekadar memvalidasi fenomena langit secara lokal menuju kesadaran sebagai satu kesatuan umat global (One Global Community). Keputusan untuk berpuasa pada 18 Februari tidak mendahului alam, melainkan wujud ketaatan pada sistem hisab yang memberikan kepastian ilmu dan komitmen pada persatuan matra di seluruh muka bumi. Dengan memahami konstruksi berpikir ini, insyaAllah kita dapat menepis keraguan dan menyongsong Ramadan 1447 H dengan penuh keyakinan. Lebih dari itu, penerapan Kalender Hijriyah Global Tunggal ini sejatinya adalah ikhtiar kita untuk melunasi ‘hutang peradaban’ umat Islam setelah 14 abad lamanya kita menantikan hadirnya satu sistem penanggalan yang unifikatif dan mempersatukan. Wallahu a’lamu bis shawab.

Oleh: Muhamad Rofiq Muzakkir, Lc., M.A., Ph.D.
Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Dinamika penentuan awal bulan Kamariah kembali menyapa kita menjelang Ramadan 1447 Hijriyah (2026 Masehi). Muhammadiyah, melalui maklumatnya, telah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026.
Dalam maklumat tersebut, disebutkan bahwa Parameter Kalender Global yang pertama hasil dari Kongres Penyatuan Kalender Islam di Turki 2016: tinggi 5 derajat dan elongasi 8 derajat terpenuhi di wilayah Alaska. Hal ini mungkin memancing pertanyaan awam: "Mengapa kita harus berpuasa mengikuti hilal yang terlihat jauh di ujung dunia sana?"
Pertanyaan ini wajar, namun jawabannya sesungguhnya melampaui sekadar posisi Alaska. Jika kita membentangkan peta dunia lebih luas dan menelaah data astronomis secara lebih rinci, kita akan menemukan bahwa argumen penetapan ini memiliki basis yang kuat, tidak hanya secara hisab global, tetapi juga dalam konteks sharing night (berbagi malam) dengan berbagai kota, termasuk pusat-pusat peradaban Islam.
Data Sekunder yang Menguatkan: Dari Mekkah hingga Casablanca
Memang benar, basis penetapan Muhammadiyah kini mengacu pada Parameter Kalender Global yang mensyaratkan visibilitas di belahan bumi mana pun, sebuah syarat yang terpenuhi sempurna di kawasan Alaska. Namun, prinsip Wujudul Hilal tetap bisa digunakan sebagai argumen penguat (corroborating evidence) bahwa hilal secara fisik memang sudah ada (eksis) di langit, meskipun belum tentu bisa dilihat mata di semua tempat. Sejak awal memang Muhammadiyah tidak mensyaratkan keterlihatan hilal.
Jika kita meninjau melalui kacamata Wujudul Hilal—metode yang lama menjadi tradisi, ataupun kriteria Ummul Qura—validitas tanggal 18 Februari justru semakin kokoh. Fakta astronomis menunjukkan bahwa di wilayah strategis dunia Islam lainnya, hilal sesungguhnya telah 'wujud' di atas ufuk saat matahari terbenam, memberikan konfirmasi bahwa bulan baru secara substansial telah lahir, terlepas dari apakah ia mencapai derajat visibilitas visual atau tidak.
Mari kita lihat data perhitungan Accurate Times (oleh Mohammad Odeh) pada petang hari Selasa, 17 Februari 2026:
1. Di Langit Ka'bah (Mekkah): Data menunjukkan bahwa di Mekkah, Matahari terbenam pada pukul 18:22 waktu setempat, sedangkan Bulan terbenam pada 18:26. Artinya, hilal sudah wujud di atas ufuk dengan ketinggian +00° 13' 13". Meski tipis, secara astronomis bulan sudah berada di atas ufuk setelah matahari terbenam. Ini memenuhi kriteria masuknya bulan baru dalam sistem kalender Ummul Quro. Dalam kalender resmi Arab Saudi sendiri, 1 Ramadan 1447 ditulis jatuh pada tanggal 18 Februari 2026.
2. Di Afrika Utara (Maroko): Bergerak ke barat, posisi hilal semakin tinggi. Di Rabat dan Casablanca (Maroko), ketinggian hilal sudah cukup signifikan. Di Casablanca, misalnya, tinggi hilal mencapai +02° 07' 00" saat matahari terbenam. Ini adalah posisi yang sangat meyakinkan bagi prinsip wujudul hilal.
3. Di Eropa (London): di London, Inggris, hilal tercatat berada pada ketinggian +00° 50' 57" saat matahari terbenam.
Data-data ini adalah "bukti sekunder" yang krusial. Ia menegaskan bahwa pada tanggal 17 Februari petang waktu setempat, hilal 1 Ramadan 1447 H sesungguhnya telah eksis di ufuk barat berbagai belahan bumi, mulai dari Timur Tengah, Afrika, hingga Eropa.
Konsep Sharing Night: Satu Malam, Satu Awal
Argumen pendukung atau tambahan untuk memulai puasa bersamaan pada 18 Februari 2026 bagi umat Islam di Indonesia adalah konsep Sharing Night atau berbagi malam. Bagi para pengguna KHGT, tentu saja argumen ini tidak dijadikan argumen inti. Tetapi perlu diakui argumen ini dapat bermanfaat untuk menjawab pihak yang bertanya: mana negara yang hilalnya sudah wujud sebelum waktu fajar di Indonesia? Pada kenyataannya, jelang Ramadan tahun ini, pertanyaan ini memang banyak diajukan.
Ketika matahari terbenam di Mekkah (sekitar pukul 18:22 waktu Saudi), di Indonesia waktu menunjukkan sekitar pukul 22:22 WIB. Ketika matahari terbenam di London atau Casablanca, di Indonesia sudah memasuki tengah malam atau dini hari.
Poin kuncinya adalah: ketika hilal terbukti wujud di Mekkah, London, dan Casablanca pada petang hari Selasa 17 Februari, di Indonesia waktu belum memasuki Fajar (Subuh). Jadi bagi yang beranggapan, karena pengaruh mazhab Hanafi, bahwa hari dimulai pada waktu fajar, maka data astronomi ini sangat krusial dan sudah dapat menjawab kegelisahan mereka.
Kita di Indonesia masih berada dalam satu rentang malam yang sama dengan kota-kota yang telah disebutkan di atas. Kabar bahwa "bulan telah wujud" di belahan bumi barat sampai kepada kita sebelum fajar menyingsing di Indonesia. Secara syar'i dan logis, ini memberikan landasan penguata bahwa satu hari (1 Ramadan) bisa dimulai secara serentak di seluruh dunia. Kita tidak perlu menunggu satu hari lagi hanya karena hilal belum terlihat di ufuk lokal kita, sementara saudara kita di "malam yang sama" sudah mendapatinya.
Membaca Peta Visibilitas HM Nautical Almanac Office
Untuk memperkuat pemahaman ini, mari kita perhatikan peta visibilitas dari HM Nautical Almanac Office yang dikeluarkan oleh lembaga Astronomi di Britania Raya.
Peta ini memberikan visualisasi global yang menarik:
• Zona yang Diarsir (Shaded): Menunjukkan wilayah di mana bulan terbenam sebelum matahari (konjungsi belum terjadi atau bulan belum wujud).
• Zona Terang/Tanpa Arsir: Menunjukkan wilayah di mana Moonset after Sunset (Bulan terbenam setelah Matahari).
Jika Anda perhatikan, wilayah Mekkah, Eropa, dan Afrika masuk dalam zona di mana bulan terbenam setelah matahari.
Benar bahwa sebagian besar wilayah ini masuk dalam kategori di bawah Limit Danjon (batas fisiologis mata manusia untuk bisa melihat sabit bulan karena kontras cahaya). Artinya, secara rukyat visual (mata telanjang), hilal mungkin mustahil terlihat. Namun, secara hisab astronomis, bulan itu ada di sana.
Bagi Muhammadiyah dan pendukung Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang menjadi patokan bukanlah keterbatasan mata manusia dalam menangkap cahaya bulan (visibilitas), melainkan kepastian posisi benda langit tersebut pada orbitnya. Ingat prinsip pokok dalam KHGT adalah satu hari satu tanggal di seluruh dunia dan kesatuan matlak. Peta ini mengonfirmasi bahwa secara global, fase bulan baru telah dimulai, dan piringan bulan telah berada di atas ufuk di banyak pusat peradaban dunia pada malam tersebut.
Penutup
Dengan demikian, keputusan untuk memulai puasa pada 18 Februari 2026 bukanlah keputusan yang terburu-buru atau hanya mengandalkan satu titik di Alaska. Ia adalah keputusan yang dibangun di atas kesadaran global.
Fakta bahwa hilal telah wujud di atas langit Ka'bah, menjulang di langit Maroko, dan hadir di langit London—di saat kita di Indonesia masih menikmati tidur malam sebelum sahur—adalah isyarat alam semesta akan kesatuan waktu ibadah. Ini adalah manifestasi dari persatuan umat Islam global: berpuasa di bawah satu komando langit yang sama, pada satu rotasi bumi yang sama.
Selamat menyambut Ramadan 1447 H. Semoga Allah berikan kita kesehatan dan kemampuan untuk beribadah dengan maksimal di bulan yang mulia ini. Amiin YRA.

Referensi:

Ummul Qura Calendar, https://ummalquracalendar.com, diakses pada 17 Februari 2026.

Al-Taqwīm al-Sanawī bi-Ḥasabi Taqwīm Umm al-Qurā, https://www.ummulqura.org.sa/yearcalender.aspx?y=1447&l=True, diakses pada 17 Februari 2026.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram TriasPolitica.net, Klik : WA Grup & Telegram Channel

Ads Bottom

Copyright © 2023 - TriasPolitica.net | All Right Reserved