Beirut, 2 Maret 2026 — Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, pada Senin (2/3) mengumumkan larangan terhadap seluruh aktivitas militer dan keamanan yang dilakukan Hizbullah di wilayah Lebanon. Pemerintah juga membatasi peran kelompok tersebut hanya pada aktivitas politik, serta memerintahkan militer untuk menegakkan kebijakan pembatasan senjata agar berada di bawah kendali negara.
Keputusan tersebut disampaikan Salam dalam konferensi pers usai rapat kabinet yang digelar di Istana Kepresidenan di timur Beirut dan dipimpin oleh Presiden Joseph Aoun.
“Negara menolak segala bentuk aksi militer atau keamanan yang diluncurkan dari wilayah Lebanon,” tegas Salam. Ia menambahkan bahwa kabinet telah memutuskan untuk melarang setiap operasi militer di luar institusi negara yang sah.
Menurutnya, keputusan terkait perang dan damai sepenuhnya berada di tangan negara. “Keputusan perang dan damai berada secara eksklusif pada negara,” ujarnya.
Salam menekankan bahwa langkah ini mengharuskan pembatasan aktivitas Hizbullah serta mewajibkan kelompok tersebut menyerahkan senjatanya kepada negara. Ia menyebut tindakan terbaru Hizbullah sebagai pelanggaran terhadap keputusan kabinet.
Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, Perdana Menteri menginstruksikan Komando Angkatan Bersenjata Lebanon untuk melaksanakan rencana pemerintah secara tegas, khususnya ketentuan yang membatasi kepemilikan senjata di wilayah utara Sungai Litani agar berada di bawah kontrol negara.
Sebelumnya pada hari yang sama, Hizbullah menyatakan telah menargetkan sebuah lokasi militer di Israel utara dengan rentetan roket dan drone. Serangan itu diklaim sebagai respons atas serangan Israel yang terus berlangsung di Lebanon serta kampanye militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Menanggapi serangan tersebut, Israel melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah pinggiran selatan Beirut dan Lebanon selatan. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 31 orang tewas dan 149 lainnya luka-luka akibat serangan tersebut.
Situasi ini menambah ketegangan yang telah meningkat di kawasan, seiring eskalasi konflik yang melibatkan Lebanon, Israel, dan dinamika geopolitik yang lebih luas di Timur Tengah. (DL/MTD)
Sumber : https://www.middleeastmonitor.com/20260302-lebanese-prime-minister-bans-hezbollahs-military-activities/






