Dubai, 1 Maret 2026 — Lebih dari 3.000 penerbangan di kawasan Timur Tengah dibatalkan dan dialihkan menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang memicu penutupan wilayah udara secara luas di sejumlah negara. Gangguan ini melumpuhkan koridor perjalanan internasional utama dan menyebabkan ribuan penumpang terlantar di berbagai bandara.
Penutupan wilayah udara terjadi di sedikitnya tujuh bandara utama di kawasan, termasuk Dubai dan Abu Dhabi di Uni Emirat Arab (UEA), Doha di Qatar, serta Manama di Bahrain. Sejumlah maskapai besar menghentikan sementara operasionalnya dengan alasan keselamatan dan keamanan penerbangan.
Maskapai Emirates dalam pernyataan resminya menyebutkan bahwa seluruh operasi penerbangan dari dan menuju Dubai ditangguhkan sementara hingga pukul 15.00 waktu setempat pada Senin, 2 Maret, menyusul penutupan sejumlah wilayah udara regional. Flydubai juga menyampaikan bahwa situasi masih berkembang dan pihaknya terus berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk menyesuaikan jadwal penerbangan.
“Kami memprioritaskan keselamatan penumpang dan awak kabin. Tim kami bekerja keras untuk memberikan dukungan menyeluruh kepada pelanggan yang terdampak,” kata juru bicara flydubai, seraya menambahkan bahwa volume panggilan layanan pelanggan meningkat tajam akibat situasi ini.
Qatar Airways mengumumkan bahwa operasional penerbangan dari dan menuju Doha dihentikan sementara hingga setidaknya pagi 2 Maret, menunggu pengumuman resmi dari Otoritas Penerbangan Sipil Qatar terkait pembukaan kembali wilayah udara. Maskapai nasional Arab Saudi, Saudia, juga membatalkan sejumlah penerbangan dan mengaktifkan Pusat Koordinasi Darurat untuk memantau perkembangan bersama otoritas terkait.
Air Arabia turut melaporkan pembatalan, penundaan, dan pengalihan rute penerbangan akibat penutupan wilayah udara dan kondisi keamanan yang belum stabil. Maskapai-maskapai tersebut mengimbau penumpang untuk memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi sebelum berangkat ke bandara.
Sementara itu, wilayah udara Israel masih ditutup hingga 1 Maret. Maskapai El Al menyatakan tengah menyiapkan rencana pemulihan untuk memulangkan warga Israel yang tertahan di luar negeri setelah wilayah udara dibuka kembali.
Penutupan wilayah udara juga dilakukan oleh Iran, Qatar, Suriah, Irak, Kuwait, dan Bahrain sejak 28 Februari. Setelah UEA mengumumkan penutupan sebagian wilayah udaranya, layanan pelacakan penerbangan FlightRadar24 mencatat tidak ada penerbangan yang melintas di atas negara tersebut.
Gangguan ini berdampak signifikan terhadap bandara-bandara hub utama di Dubai, Abu Dhabi, dan Doha. Maskapai yang beroperasi dari pusat-pusat tersebut — termasuk Emirates, Qatar Airways, dan Etihad — biasanya melayani sekitar 90.000 penumpang per hari, menurut firma analitik penerbangan Cirium.
Di tengah ketegangan yang meningkat, dua bandara di UEA dilaporkan terdampak serangan. Bandara Internasional Dubai melaporkan empat orang terluka, sementara Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi menyatakan satu orang tewas dan tujuh lainnya mengalami luka-luka akibat serangan drone. Serangan juga dilaporkan terjadi di Bandara Internasional Kuwait. Pemerintah UEA mengecam apa yang disebut sebagai “serangan terang-terangan yang melibatkan rudal balistik Iran” pada 28 Februari, meskipun Iran tidak secara terbuka mengklaim bertanggung jawab.
Analis industri penerbangan dan Presiden Atmosphere Research Group, Henry Harteveldt, memperkirakan pembatalan dan penundaan penerbangan masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan. “Para pelancong perlu bersiap menghadapi keterlambatan atau pembatalan tambahan seiring perkembangan situasi,” ujarnya.
Untuk menghindari zona konflik, sejumlah maskapai mengalihkan rute penerbangan Timur Tengah melalui wilayah udara Arab Saudi. Pengalihan ini menambah durasi penerbangan dan biaya bahan bakar, yang berpotensi mendorong kenaikan harga tiket apabila ketegangan berkepanjangan.
Mantan Kepala Pengatur Lalu Lintas Udara Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) yang kini menjadi profesor di Embry-Riddle Aeronautical University, Mike McCormick, menilai sebagian negara kemungkinan akan membuka kembali sebagian wilayah udaranya dalam 24 hingga 36 jam ke depan, tergantung pada kejelasan zona operasi militer dan kemampuan serangan lanjutan Iran.
Namun demikian, belum ada kepastian berapa lama gangguan operasional ini akan berlangsung. Sebagai perbandingan, serangan Israel dan AS terhadap Iran pada Juni 2025 berlangsung selama 12 hari, yang kala itu juga berdampak signifikan terhadap lalu lintas udara regional.
Situasi di kawasan masih dinamis, dan otoritas penerbangan di berbagai negara terus melakukan evaluasi risiko demi menjamin keselamatan penerbangan sipil. *
Sumber : https://www.arabnews.com/node/2634896/business-economy





