Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (5/5/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah lebih dalam dan sempat menyentuh level Rp17.430 per dolar AS pada sesi pagi, memperpanjang tren depresiasi dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan data Refinitiv, hingga sekitar pukul 09.30 WIB rupiah berada di kisaran Rp17.425–Rp17.430 per dolar AS atau melemah dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi sejak awal perdagangan, mencerminkan tekanan jual yang masih kuat di pasar valuta asing.
ADVERTISEMENT
Di saat yang sama, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) tercatat berada di kisaran 98,7 dan cenderung stabil menguat. Penguatan dolar AS ini turut memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah—khususnya yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran—masih menjadi faktor utama yang mendorong investor memburu aset safe haven seperti dolar AS. Situasi di sekitar Selat Hormuz juga terus menjadi perhatian pasar karena berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dunia.
Sementara itu, dari dalam negeri, sentimen kehati-hatian investor masih membayangi pergerakan rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global serta arus modal asing yang cenderung keluar dari pasar negara berkembang.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan geopolitik global serta arah kebijakan moneter, baik dari bank sentral AS maupun Bank Indonesia, yang akan sangat menentukan arah pergerakan rupiah dalam waktu dekat.