Pemerintah Iran melontarkan ultimatum keras kepada Amerika Serikat terkait upaya perdamaian dalam konflik Timur Tengah yang telah berlangsung lebih dari dua bulan. Teheran menegaskan Washington tidak memiliki pilihan selain menerima proposal damai 14 poin yang diajukan Iran, atau menghadapi kegagalan diplomatik yang berkepanjangan.
Ketua negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa proposal tersebut merupakan satu-satunya jalan realistis untuk menghentikan konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Pernyataan itu disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump mengecam proposal balasan Iran dan menyebutnya “sepenuhnya tidak dapat diterima”.
ADVERTISEMENT
“Tidak ada alternatif selain menerima hak-hak rakyat Iran sebagaimana tertuang dalam proposal 14 poin tersebut. Pendekatan lain hanya akan menghasilkan kegagalan demi kegagalan,” tulis Ghalibaf melalui media sosial X, seperti dilansir dari Arabnews, (12/5/2026).
Ia juga memperingatkan bahwa semakin lama Washington menunda keputusan, semakin besar biaya ekonomi dan politik yang harus ditanggung Amerika Serikat.
Konflik kawasan yang pecah setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran telah meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah dan mengguncang perekonomian global. Meski gencatan senjata masih bertahan selama lebih dari satu bulan terakhir, kedua pihak terus saling mengancam untuk kembali melanjutkan perang terbuka.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut proposal balasan mereka mencakup penghentian perang di seluruh front konflik, termasuk Lebanon, penghentian blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, serta pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan akibat sanksi internasional.
Namun Trump menolak proposal tersebut dan menegaskan bahwa Amerika Serikat menginginkan “kemenangan penuh” atas Iran. Ia juga mengklaim bahwa gencatan senjata saat ini berada di ambang kehancuran.
Di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik, Islamic Revolutionary Guard Corps atau Garda Revolusi Iran menggelar latihan militer di Teheran. Media pemerintah Iran melaporkan latihan itu bertujuan meningkatkan kemampuan tempur dalam menghadapi potensi ancaman dari “musuh Amerika-Zionis”.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan warga Iran. Ketidakpastian politik dan ancaman perang lanjutan membuat masyarakat hidup dalam tekanan ekonomi dan psikologis yang berat.
“Kami hanya berusaha bertahan hidup. Masa depan sangat tidak pasti dan kami hidup dari hari ke hari,” ujar Maryam, seorang pelukis berusia 43 tahun asal Teheran.
Ketegangan terbaru juga memicu gejolak pasar energi global. Reaksi keras Trump terhadap proposal Iran menyebabkan harga minyak melonjak dan mengurangi harapan tercapainya kesepakatan cepat untuk membuka kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Iran saat ini memperketat lalu lintas maritim di kawasan tersebut dan dikabarkan tengah menyiapkan mekanisme pembayaran bagi kapal-kapal yang melintas. Langkah itu memperburuk krisis energi dunia karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas alam global.
CEO perusahaan minyak Arab Saudi Saudi Aramco, Amin Nasser, menyebut gangguan pasokan energi saat ini sebagai yang terbesar dalam sejarah modern.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menegaskan Iran tidak boleh menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan politik terhadap negara-negara Teluk.
Selain mengancam sektor energi, ketegangan di Selat Hormuz juga berpotensi memicu krisis pangan global. Gangguan distribusi pupuk dari kawasan Teluk diperkirakan dapat memperburuk ancaman kelaparan di berbagai negara berkembang.
Direktur Eksekutif United Nations Office for Project Services, Jorge Moreira da Silva, memperingatkan dunia hanya memiliki waktu beberapa minggu untuk mencegah “krisis kemanusiaan besar” yang dapat mendorong tambahan 45 juta orang ke jurang kelaparan.
Sumber : https://www.arabnews.com/node/2643296/middle-east