Internasional

4 Hari Setelah Trump Tinggalkan China, Putin Tiba di Beijing Kunjungi Xi Jinping

TriasPolitica.net

20 May 2026 06:13 • 757 view

4 Hari Setelah Trump Tinggalkan China, Putin Tiba di Beijing Kunjungi Xi Jinping
Foto: Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu Presiden China Xi Jinping

Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Beijing untuk melakukan kunjungan kenegaraan hanya empat hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meninggalkan China. Kunjungan ini dinilai sebagai sinyal kuat meningkatnya peran China sebagai pusat diplomasi global sekaligus mempertegas hubungan erat antara Moskow dan Beijing di tengah memanasnya persaingan geopolitik dunia.


Kedatangan Putin juga menegaskan kedekatan personal dan politiknya dengan Presiden China Xi Jinping. Menurut media pemerintah China, ini merupakan kunjungan Putin yang ke-25 ke Negeri Tirai Bambu. Xi dan Putin sendiri tercatat telah bertemu lebih dari 40 kali, jauh melampaui intensitas pertemuan Xi dengan para pemimpin Barat lainnya.

ADVERTISEMENT


Analis senior International Crisis Group, William Yang, menilai Beijing ingin menunjukkan bahwa China memiliki hubungan internasional yang kuat dan tidak mudah diisolasi oleh Washington.


“Menjadi tuan rumah bagi dua pemimpin paling berpengaruh di dunia dalam hitungan hari menunjukkan meningkatnya kepercayaan diri China terhadap posisi dan pengaruhnya di dunia,” ujar Yang dilansir dari The Guardian, Rabu (20/5/2026).


Ia menambahkan, Xi kemungkinan ingin mengingatkan Trump bahwa Beijing masih memiliki mitra strategis yang solid sehingga Amerika Serikat tidak bisa dengan mudah menekan ataupun mengisolasi China.


Kunjungan Putin berlangsung di tengah situasi domestik Rusia yang semakin menantang. Setelah lebih dari dua tahun perang di Ukraina, Rusia dinilai belum mencapai kemajuan signifikan di medan tempur. Kondisi ekonomi Rusia yang terus tertekan juga membuat ketergantungan Moskow terhadap China semakin besar.


Meski Kremlin menggambarkan hubungan kedua negara sebagai “kemitraan setara”, sejumlah pengamat menilai hubungan tersebut kini semakin timpang dengan posisi China yang jauh lebih dominan.


Dalam pidato video menjelang kunjungannya, Putin menyebut hubungan Rusia-China telah mencapai “tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya”. Ia menyoroti meningkatnya perdagangan bilateral kedua negara, penggunaan mata uang rubel dan yuan dalam transaksi dagang, serta kebijakan bebas visa bagi warga Rusia dan China.


Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan hubungan persahabatan kedua negara akan semakin kuat berkat kepemimpinan Xi dan Putin.


“Tahun ini menandai 30 tahun kemitraan strategis Beijing dan Moskow serta 25 tahun penandatanganan perjanjian persahabatan dan kerja sama bertetangga baik,” kata Guo.


Hubungan ekonomi kedua negara juga semakin erat setelah Barat menjatuhkan sanksi terhadap Rusia akibat invasi ke Ukraina. China diketahui tidak mengikuti sanksi Barat dan sejak perang dimulai telah membeli ratusan miliar dolar produk energi fosil dari Rusia.


Para analis kini menyoroti kemungkinan tercapainya kesepakatan baru di sektor energi antara kedua negara. Salah satu proyek utama yang menjadi perhatian adalah pembangunan pipa gas Power of Siberia 2 sepanjang 2.600 kilometer yang akan menambah kapasitas pengiriman gas Rusia ke China hingga 50 miliar meter kubik per tahun melalui Mongolia.


Bagi Rusia, proyek tersebut penting untuk menggantikan pasar energi Eropa yang hilang akibat sanksi Barat. Sementara bagi China, pasokan energi darat dari Rusia dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap jalur laut strategis seperti Selat Hormuz yang terganggu akibat konflik Amerika Serikat dan Iran.


Namun, sebagian pengamat menilai Beijing juga berhati-hati agar tidak menjadi terlalu bergantung pada energi Rusia di saat China sedang mendorong swasembada energi nasional.


Di sisi lain, hubungan erat Beijing dan Moskow turut memengaruhi dinamika hubungan China dengan Barat. Negara-negara Barat terus mengkritik dukungan ekonomi China terhadap Rusia, termasuk ekspor barang-barang berteknologi ganda yang dapat digunakan untuk kepentingan militer.


Baru-baru ini, Kedutaan Besar China di Inggris juga melayangkan protes keras setelah London memasukkan dua entitas China ke dalam daftar sanksi terkait Rusia.


Sumber : https://www.theguardian.com/world/2026/may/19/vladimir-putin-beijing-china-state-visit-xi-jinping-russia

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram TriasPolitica.net, Klik : WA Grup & Telegram Channel

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!