Washington - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras terkait situasi di Selat Hormuz. Dalam pernyataan terbarunya, Trump menegaskan bahwa Washington siap mengambil langkah militer ekstrem jika Teheran menolak kesepakatan yang ditawarkan.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Minggu (19/4/2026), Trump menuduh Iran telah melanggar gencatan senjata dengan menembaki kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai “pelanggaran total” terhadap kesepakatan yang baru saja dicapai.
ADVERTISEMENT
“Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal, dan saya berharap mereka menerimanya. Jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap pembangkit listrik dan setiap jembatan di Iran. Tidak ada lagi Tuan Baik Hati,” tulis Trump dalam pernyataan yang bernada ultimatum tersebut.
Pernyataan keras itu muncul di tengah situasi diplomasi yang kian rapuh. Iran diketahui kembali memberlakukan penutupan efektif Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026), hanya sehari setelah sebelumnya menyatakan jalur strategis tersebut “sepenuhnya terbuka” sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
Penutupan tersebut diklaim Iran sebagai respons atas keberlanjutan blokade laut oleh militer Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Teheran menilai langkah tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan damai yang sedang berlangsung.
Sementara kedua pihak saling menyalahkan atas dugaan pelanggaran, prospek perundingan lanjutan juga terlihat tidak pasti. Dua pejabat senior pemerintahan AS mengungkapkan kepada media bahwa delegasi tingkat tinggi, termasuk Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan Jared Kushner, dijadwalkan melakukan perjalanan ke Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan negosiasi dengan Iran.
Trump sebelumnya menyatakan bahwa para negosiator akan tiba di Islamabad pada Senin malam. Kota tersebut diketahui telah menjadi tuan rumah pembicaraan langsung antara kedua pihak pada pekan sebelumnya. Gencatan senjata yang berlaku saat ini dijadwalkan berakhir pada Rabu mendatang.
Namun, pihak Iran membantah adanya rencana perundingan lanjutan dalam waktu dekat. Kantor berita resmi IRNA menyebut tidak ada “prospek yang jelas” untuk pembicaraan baru di tengah kondisi saat ini. Iran menilai tuntutan Amerika Serikat terlalu berlebihan, posisi yang berubah-ubah, serta keberlanjutan blokade laut sebagai hambatan utama bagi tercapainya dialog.
Situasi ini menambah ketidakpastian di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait stabilitas Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan energi global. Eskalasi retorika dari kedua pihak memunculkan kekhawatiran akan potensi konflik yang lebih luas jika upaya diplomasi terus menemui jalan buntu.
Sumber : https://www.nbcnews.com/world/iran/iran-distance-peace-deal-hormuz-closure-halts-shipping-rcna340846