Pemerintah tengah mengkaji penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pengganti LPG 3 kilogram (kg) guna menekan ketergantungan impor energi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan proses uji coba penggunaan CNG pada tabung gas 3 kg masih berlangsung dan diharapkan dapat mulai diterapkan tahun ini.
Menurut Bahlil, langkah substitusi LPG ke CNG menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mengurangi impor LPG yang selama ini sangat besar. Dari total kebutuhan nasional sekitar 8,6 juta ton per tahun, Indonesia masih mengimpor sekitar 7 juta ton LPG.
ADVERTISEMENT
“CNG ini untuk 3 kg masih kita melakukan exercise dan uji-coba terhadap tabungnya,” ujar Bahlil di kantornya, Rabu (6/5).
CNG merupakan bahan bakar yang berasal dari gas bumi dengan kandungan utama metana yang dimampatkan dan disimpan dalam tabung bertekanan khusus. Berbeda dengan LPG yang berbentuk cair, CNG tetap berada dalam bentuk gas meski telah dikompresi.
Berdasarkan penjelasan Kementerian ESDM, CNG dinilai memiliki tingkat keamanan lebih baik dibanding LPG. Jika terjadi kebocoran, gas CNG akan langsung membumbung ke udara sehingga lebih sulit membentuk campuran yang mudah terbakar.
Selain itu, berat jenis CNG lebih ringan dibanding udara, yakni sekitar 0,55 hingga 0,80 berbanding 1. Dengan karakteristik tersebut, gas akan lebih cepat menguap ke atmosfer saat terjadi kebocoran.
Dari sisi performa, CNG memiliki nilai oktan tinggi, yakni sekitar 120, dengan nilai kalor pembakaran berkisar 9.000–11.000 Kcal per kilogram atau sekitar 38–47 MJ/Kg. Karakteristik itu membuat CNG dinilai efisien sebagai sumber energi alternatif.
Tak hanya itu, CNG juga dikenal lebih ramah lingkungan. Kandungan utamanya berupa metana dan etana menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibanding bahan bakar minyak. Proses pemurnian gas ini juga tidak menggunakan tetraethyl lead (TEL), yakni zat aditif peningkat oktan yang berpotensi mencemari lingkungan.
Karena lebih murah dan rendah emisi, penggunaan CNG selama ini cukup populer di sektor transportasi. Bahan bakar gas tersebut telah dimanfaatkan untuk kendaraan umum seperti bus, taksi, truk, hingga kendaraan operasional lainnya.
Pemerintah sendiri sebenarnya telah mulai mendorong diversifikasi energi berbasis gas sejak 2013 melalui program bahan bakar gas (BBG) untuk transportasi publik. Kini, pemerintah mencoba memperluas pemanfaatannya ke sektor rumah tangga melalui pengembangan tabung CNG pengganti LPG 3 kg.